tag:

03 January 2009

KEBERANIAN BERNAMA MUNIR: Belajar Menjadi Pemberani ala Munir

Judul:
Keberanian Bernama MUNIR: Mengenal Sisi-sisi Personal Munir

Penulis:
Meicky Shoreamanis Panggabean

Penerbit:
Mizan, Bandung, Desember 2008, 289 hlm.


Catatan:
Kayaknya hampir ngga ada orang Indonesia yang ngga kenal dengan Almarhum Munir. Sebagian mengenal Munir sebagai aktivis pergerakan, bahkan menganggapnya sebagai pahlawan pejuang kemanusiaan yang menemui ajalnya secara tragis. Dan sebagian lagi menganggap Munir sebagai musuh tentara, musuh negara, antek Yahudi, antek Komunis yang mengancam stabilitas dan keutuhan Bangsa dan Negara Indonesia.

Saya mengenal sosok Munir dari berbagai macam pemberitaan/tulisan/artikel dan dari banyak cerita/obrolan dari orang-orang yang cukup dekat dengan almarhum. Saya belum pernah bertegur sapa dengan Munir sekalipun pernah sama-sama menghadiri resepsi pernikahan salah seorang kerabat saya sekitar tahun 2000 lalu.

Saya yang pernah melihat Munir secara langsung (kalau tidak mau dikatakan bertemu langsung) selalu terkesan dengan tidak nyambungnya antara sosoknya secara fisik dengan reputasinya (baik itu positif maupun ‘negatif’). Sosoknya yang santun, santai, cenderung pendiam dan sedikit cengengesan tak terbayangkan bisa menjadikan Munir sebagai momok menakutkan bagi rezim pemerintahan otoriter. Dan dari buku inilah saya jadi tahu kenapa sesosok Munir yang merdeka menjadi begitu menakutkan bagi rezim otoriter yang paranoid.

Buku ini cukup berimbang dalam menyampaikan sosok Munir. Almarhum terlukiskan dari sisi manusiawi dengan segala kekurangannya, ketimbang heroisme pemikiran dan perjuangannya. Dari sisi itulah saya bisa belajar bagaimana sosok Munir bisa mengatasi ketakutannya dan terror yang terus menghantamnya yang justru menjadi pemicu kekuatan perjuangannya. “Jangan pernah biarkan terror menjadikan anda takut, sebab kalau itu terjadi, artinya terror tersebut sukses melakukan tugasnya,” begitu kira-kira prinsip Munir dalam menghadapi terror.

Saya banyak tersenyum-senyum sendiri dalam membaca buku ini karena banyak menemukan ‘kecurangan’ yang dilakukan penulis. ‘Kecurangan’ yang saya maksud adalah hubungan kedekatan antara penulis dengan Munir dan orang-orang terdekat Munir yang ‘dimanfaatkan’ penulis sebagai narasumber. Ngga heran kalau di dalam buku ini terdapat beberapa wawancara eksklusif dengan Munir dan beberapa tokoh aktivis dengan topik dan gaya bahasa yang paling personal, yang mungkin belum pernah ditulis dalam buku mana pun sebelum ini. Termasuk di dalamnya adalah celotehan komedian Almarhum Taufik Savalas mengenai rambut merahnya Munir dalam salah satu resepsi pernikahan yang juga saya hadiri waktu itu.

Buku ini tidak secara langsung menginspirasikan saya untuk mengikuti jejak Munir menjadi aktivis. Tapi dengan mengenal sisi-sisi personal Munir melalui buku ini, mudah-mudahan bisa menjadikan saya lebih peduli dengan kehidupan dan kemerdekaan dan juga dapat membuat saya menjadi lebih berani berpikir merdeka.

No comments: