tag:

25 January 2009

PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN: Surga Memang Harus Selalu Diperjuangkan



Judul:
Perempuan Berkalung Sorban

Sutradara:
Hanung Bramantyo

Pemeran:
Revalina S. Temat, Oka Antara, Widyawati, Joshua Pandelaki, Reza Rahadian, Francine Roosenda

Catatan:
Awalnya tahu kalo Hanung berniat membuat film ini dari info-info ngga lama setelah AAC dirilis. Terbersit kayaknya Hanung lagi suka dengan tema-tema reliji karena AAC menjadi box office waktu itu. Tapi ditambahkan juga bahwa filmnya kali ini bertemakan ‘feminisme’ dalam Islam. Wah temanya ini malah bikin menarik minat gue untuk menontonnya.

Gue siapkan hati dan jiwa untuk menontonnya. Gue selalu tertarik kalo ada yang mengusung feminisme (baca: penyetaraan gender) dalam Islam. Gue selalu sadar bahwa Islam selalu dicitrakan sebagai agama yang berpihak kepada laki-laki. Memang sih udah banyak yang ‘menengahi’ dengan mengutip Ayat-ayat Kitab Suci Al Qur’an atau Hadits Nabi yang menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan dalam Islam. Tapi pada kenyataannya masih banyak perempuan muslim ‘terjerumus’ dalam ketidak adilan gender.

Dalam persiapan itu, ngga sengaja gue nemuin novelnya!! Ternyata film ini didasari dari sebuah novel yang ditulis oleh seorang aktivis muslim perempuan. Langsung aja gue beli dan langsung gue baca sampai selesai (agak di luar kebiasaan gue untuk langsung baca sampai habis buku yang baru aja gue beli). Hasilnya: gue malah makin antusias untuk menyaksikan filmnya.

Dan filmnya berhasil menuturkan dengan indah apa yang disampaikan lugas dalam buku. Tokoh Anissa (tokoh utama) digambarkan mampu berkembang menjadi dewasa dan semakin dewasa dalam hidup. Sekalipun pada setengah jam pertama gue sempet merasa capek dengan lompatan-lompatan adegan yang rasanya ngga terlalu ngalir (mungkin karena gue sempet kecapekan antri di depan loket, 1 jam berdiri!!). Untungnya begitu sampai pada ‘babak pendewasaan’ film ini semakin mengalir dengan deras dan semakin menusuk.

Banyak adegan yang ngga ada di novel ditambahkan dalam film ini untuk lebih mengangkat tema kesetaraan gender tersebut. Dan proses pendewasaan tokoh utama berkembang dalam adegan-adegan itu. Belum lagi dikaitkan dengan buku-buku yang dilarang pemerintah pada waktu itu (kurun waktu cerita pada tahun 80-an). Tokoh utama semakin terbuka wawasannya. Anissa tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk kaum perempuan secara keseluruhan.

Revalina yang sehari-harinya halus dalam bertutur kata (kalo gue liat di televisi sih), di sepanjang film ini hampir selalu tampil berwajah keras dengan nada bicara yang tegas sebagai tokoh Anissa. Gugatan yang dilakukan Anissa sejak kecil sepertinya tergambar jelas pada perilaku dan raut wajahnya, seperti halnya mungkin guratan wajah seseorang bisa juga melukiskan betapa dia selalu kesusahan di sepanjang hidupnya. Jarang sekali wajah Anissa terlihat lembut. Yang kadang muncul adalah raut wajah lelah.

Penulis novelnya diajak untuk menjadi cameo dalam salah satu adegan yang berinterkasi langsung dengan Anissa. Dan si sutradara pun berusaha exist tampil di salah satu adegan yang sebenernya sih ngga penting-penting amat….. he he he he he ma’af ya Mas Hanung.

Dari sisi tema yang diangkat, gue melihat ada ‘kontra’ dari karya film reliji Hanung sebelum ini. Mungkin saja setelah menyaksikan AAC, para lelaki bisa bilang, “Islam tuh seperti itu.” Tapi juga bisa jadi setelah menyaksikan Perempuan Berkalung Sorban, para perempuan yang akan angkat bicara, “Yang ngaku Islam tuh mustinya seperti itu pada perempuan.” Yang sering didengar adalah Surga Ada di Telapak Kaki Ibu (baca: Perempuan), tapi kenapa ‘surga’nya perempuan Muslim cuma bisa ada kalo ada surga bagi suaminya?

Buat gue, urusan keyakinan adalah hak masing-masing Individu. Ngga usah deh diganggu-ganggu ato diatur-atur oleh orang lain. Toh aturan bakunya udah ada dalam Kitab suci masing-masing. Tapi menurut gue ada yang lebih besar daripada sekedar beribadah pribadi kepada Tuhan, yaitu memperjuangkan kemanusiaan bagi semua umat manusia.

No comments: